GEDE PUTRA ADNYANA: BARBAGI UNTUK SALING MENGERTI DAN MEMAHAMI DEMI KEMULIAAN SEMUA MAKHLUK
Tampilkan postingan dengan label DUNIA SASTRA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DUNIA SASTRA. Tampilkan semua postingan

Refleksi Sepi


Sepi datang lagi,
Menggerogoti hati sanubari,
Tapi,
Sepi mesti dicermati, dimengerti, dan dimaknai,

Tak berarti,
Manakala sepi, tak menjadi bahan refleksi,
Tak berarti,
Ketika sepi hanya dinanti,
Tak berarti,
Tatkala sepi terlewati dan mati

Sepi adalah peluang untuk refleksi
Refleksi tentang eksistensi diri
Refleksi masa depan nanti
Dan refleksi kompetisi hidup ini

Di saat sepi,
Energi harus mati,
Sebagaimana biji yang alami dormansi
Dan berkembang menjadi organism sejati

Mengapa harus sepi?
Karena sepi adalah proses pengumpulan energi
Mengapa mesti sepi?
Karena sepi melahirkan kreasi
Mengapa ada sepi?
Karena sepi semua proses dimulai

Mari kreasi sepi
Menjadi berarti
Mengejar prestasi
Untuk peningkatan harga diri

Nyepi adalah momentum refleksi
Mencermati yang telah terlewati
Mengasah potensi diri
Untuk menjadi diri sejati

(Selamat Hari Raya Nyepi Tahun Saka 1932, Semoga Kebaikan Datang dari Segala Penjuru)
Dari: Gede Putra Adnyana, untuk pengunjung dan pembaca yang budiman

Adakah yang patut diberikan komentar? Komentar pengunjung/pembaca adalah Kebahagiaan Penulis/Blogger

Mengenang Untuk Yang Mengenang


Meniti hari, mencari jati diri
Mengukir hati, menjadi nurani
Mengejar asa dengan prestasi
Menjadi diri sejati untuk hari nanti
Sang kala adalah keniscayaan
Amati, cermati, dan kritisi
Agar menjadi panduan
Jalani hidup penuh arti
Hari berlalu, usia tereduksi
Jangan sia-siakan hari,
Dengan menanti dan berdiam diri
Belajar dan bekerja itulah yang pasti
Umur bertambah, kesempatan berkurang
Mari mengenang jalan yang terbentang
Menembus tantangan menjadi peluang
Dengan motivasi untuk terus berjuang
Kukenang, bagimu yang mengenang
Kunanti, untuk hadir dengan prestasi
Kan kuundang, datang membawa peluang
Demi, peningkatan kualitas generasi
Salam,
Anakku, adikku, sahabatku, dan semua yang pernah kukenang dan akan terus dikenang, hidup adalah perjalanan menuju bersatunya raga dengan pertiwi. Oleh karena itu, jadikannlah hidup ini bermakna untuk dirimu, keluargamu, dan masyarakat. Karena, sekecil apapun makna yang diberikan akan selalu dimaknai sehingga menjadi lebih bermakna. Jangan takut untuk memulai yang mulia.
Saat ini, kompetensi menjadi senjata pamungkas. Siapa yang berkompeten ialah pemenangnya. Sudah mulai ada kecenderungan degradasi kesenjangan sehingga suatu saat diantara kita akan menjadi relatif setara. Oleh karena itu, untuk dapat eksis dalam proses degradasi kesenjangan itu, maka peningkatan kompetensi diri adalah keniscayaan. Kekuatan diri akan muncul, manakala kompetensi berintegrasi dengan kemuliaan diri.
Terima kasih, untuk  semuanya.
Semoga kebaikan selalu datang dari segala penjuru.



Oleh: Gede Putra Adnyana
Guru SMAN 1 Banjar, Buleleng, Bali

Refleksi Tahun 2010

LANGKAH AWAL TAHUN 2010
(Langkah Pasti Memecah Prestasi)
Oleh: Gede Putra Adnyana
Tahun 2009 terlewati sudah. Banyak pengalaman mengantar untuk membuka pintu tahun 2010. Pengalaman pahit, manis, sakit, senang, kecewa, dan bahagia berbaur menjadi bubur kehidupan. Semua pengalaman itu hanya dapat dipilih dan dipilah manakala disediakan waktu untuk mengadakan refleksi secara cerdas. Malam pergantian tahun baru, itulah momentum yang tepat untuk mengadakan refleksi.
Mencermati dengan seksama apa yang telah diperbuat, selanjutnya menyimpulkan kelebihan dan kekurangannya, adalah sebuah tindakan cerdas. Kecerdasan akan semakin tinggi manakala ada upaya untuk menemukan perbaikan tindakan. Tindakan reflektif seperti ini berpotensi mengangkat harga diri, mengejar prestasi, untuk menjadi diri sejati. Pengangkatan harga diri melalui prestasi, terjadi ketika ada penghormatan yang diberikan orang lain. Pengangkatan harga diri adalah kebutuhan hidup tertinggi, yaitu aktualisasi diri.
Proses pengaktualan diri niscaya akan menghadirkan ketokohan. Ketokohan seseorang akan lengkap ketika ada 3 unsur yang saling mendukung. Ketiga unsur itu yakni, 1) kemampuan intelektual, 2) kemampuan finansial, dan 3) kemampuan sosialisasi. Oleh karena itu, meningkatkan kemampuan ketiga unsur itu adalah tantangan sekaligus peluang bagi setiap orang, kapan dan di mana saja. Ketidaklengkapan ketiga unsur itu pada seseorang akan menyebabkan ketokohannya menjadi sumir.
Tahun 2010 adalah tantangan sekaligus peluang bagi siapa saja yang ingin menjadi mengejar prestasi menjadi tokoh demi aktualisasi diri. Mentranskripsi tantangan menjadi peluang dibutuhkan kerja keras. Jangan mengharap prestasi, ketokohan, dan kemuliaan akan datang hanya dengan bermalas dan berdiam diri. Kerja keras yang dilakukanpun harus mempertimbangkan potensi yang dimiliki. Oleh karena perbedaan adalah keniscayaan, maka siapa yang cerdas memahami potensi diri dalam bingkai perbedaan berpeluang untuk berprestasi dan menjadi tokoh. Manakala prestasi itu telah hadir, maka harus segera sadar, bahwa alam menawarkan perbedaan. Perbedaan identik dengan perubahan, dan perubahan menawarkan prestasi. Jadi, hargailah perbedaan!
Dengan demikian, tahun 2010 adalah momentum untuk memulai yang mulia. Paling sedikit ada 3 hal pokok yang harus diperhatikan. 1) komitmen untuk  mengubah segala kelemahan dan tantangan menjadi kekuatan dan peluang, 2) mencermati dengan cerdas kemampuan/potensi yang dimiliki sehingga mengetahui langkah awal yang harus ditempuh, dan 3) rasa percaya diri yang tinggi untuk mulai berubah, karena perubahanlah yang kekal. Manakala ketiga strategi itu dilaksanakan, maka niscaya perubahan akan terjadi. Perubahan ke arah perbaikan untuk kemuliaan.